Aku tersentak bangun saat bis akas yang kutumpangi berhenti di terminal Pamekasan. Aku menggerak-gerakkan kepala sebentar, mengusir penat setelah setengah jam terlelap di jok bis. Aku membesarkan lubang keluar AC di atasku untuk menambahkan sejuk udara yang mulai menghangat. Kuperiksa kembali tas bawaanku, masih lengkap. Walaupun ada semacam jaminan bahwa di Akas Patas jarang terjadi kehilangan barang namun aku tetap harus waspada. Jumlah uang yang ada di dalam tas itu bukan sedikit, seratus juta lebih. Sebenarnya aku sudah berkeras untuk membawa ATM saja namun Ibu Nurul tetap memaksa agar aku tetap membawa tunai. Tidak ada ATM yang bisa melayani pengambilan uang sebegitu banyak, katanya. Lalu mengapa tidak ditransfer saja ? bukankah itu lebih simpel. Ujarku mendebat Ibu Nurul. Itulah masalahnya, seandainya relasi kita hanya satu orang itu menjadi mudah. Tapi kita akan berhubungan dengan beberapa pihak, minimal ada 3 orang yang akan dikirimi uang dan semuanya dalam jumlah yang tidak sedikit. Untuk transfer sendiri ada batasan nominal yang bisa dikirim dalam satu hari sementara tenggat pembayaran sudah habis. Hari ini semua utang jatuh tempo harus sudah dilunasi, kalau tidak akan ada biaya kompensasi yang jelas tidak sedikit pula jumlahnya. Belum lagi brand image perusahaan yang akan tercoreng. Maka dengan berat hati akupun menyetujui untuk membawa sejumlah besar uang ini dalam tas. Hanya aku meminta menggunakan Bis Akas Patas. Lebih aman. Tapi bukankah lebih baik kalau menggunakan mobil dinas perusahaan. Ah, seandainya saja kita sudah memiliki yang layak. Semua mobil yang dimiliki adalah mobil untuk produksi, hampir semuanya Mobil Box dan rasanya tidak layak digunakan untuk urusan semacam ini. Belum lagi panasnya yang wah minta ampun. Dan tentu saja jarang sekali ada mobil box yang sejuk ketika digunakan. Maka jadilah aku naik bis Akas Patas ini tadi pagi.
Lima menit berselang kemudian, para penjual makanan dan minuman telah turun karena tak jua ada yang membeli dagangannya. Penjual koran telah mengambil lagi koran pagi yang dibagikan. Ah, masih tentang musibah. Lagi-lagi musibah saja yang menjadi headline. Kapan berita baik akan diprioritaskan menjadi sorotan dan headline media. Tidak jadi aku membeli koran, karena kupikir beritanya tidak akan jauh berbeda dari berita kemarin. Lagi pula masih ada nanti sore untuk membaca koran di rumah. Beberapa saat sebelum berangkat beberapa penumpang naik dan memilih-milih tempat duduk. Kulayangkan pandangan pada bis akas lainnya yang juga parkir tak jauh dari yang kutumpangi. Terlihat penumpangnya berdesakan bahkan beberapa berdiri karena tidak mendapatkan tempat duduk. Harga memang memiliki kompensasi dan resiko yang berbeda sebanding dengan tingkatannya.
Bis perlahan keluar area terminal. Cahaya matahari mulai menyengat, kutarik renda kecil untuk menghalangi terpaan cahaya matahari yang memanas. Seorang wanita tiba-tiba menyapa dan bermaksud duduk di sebelahku. Ia adalah salah seorang penumpang yang baru saja naik tadi, seingatku ia memilih tempat duduk di depan tak jauh dari sopir. Entah mengapa ia pindah ke sini, berdampingan denganku di bagian agak belakang.
Wanita itu tersenyum ketika kutanyakan mengapa ia pindah tempat duduk. “saya tidak tahan dengan asap rokok”. Ah, itu lagi. Merokok, perbuatan egois sebagian laki-laki yang tidak hanya merugikan dirinya sendiri tapi juga orang di sekitarnya. Dan… ya tentu saja Hak Asasi Manusia menjadi tamengnya ketika ada orang yang protes dengan itu. Bahkan ada yang lebih parah dengan mengklaim merokok sebagai lambang kejantanan. Kalau tidak merokok tidak jantan. Maka saya kemudian menjadi bertanya-tanya, apakah dengan tidak merokok seorang laki-laki tidak bisa menghamili seorang gadis. Saya menggeser duduk dan menyilahkan wanita itu duduk. Semerbak wanginya menerpa hidungku, wangi parfum gadis itu. Entah jenis apa, agak mirip bulgary tapi ada juga rasa audora. Hanya yang jelas, perjalananku selanjutnya akan terasa lebih asik.
“Turun di mana mbak?” aku bertanya dengan memberanikan diri. “Bangkalan, mas sendiri ?” ujarnya sambil merapikan jilbab pinknya.
“Saya ke Surabaya” ia mengangguk dan tersenyum manis. Eh, kurang. Terlalu manis malah. Sesekali aku mencuri pandang dan menikmati kecantikannya yang menggetarkan. Pembicaraan selanjutnya semakin menarik dan tidak terasa bis yang kami tumpangi telah memasuki kota sampang. Cepat sekali pikirku. Perhentian di terminal Sampang memang tidak lama tapi menyisakan kenangan yang tak terlupakan. Beberapa saat setelah bis berhenti, para penjual makanan langsung menyerbu masuk. Menawarkan bermacam-macam makanan kecil, pisang goreng, ote-ote dan lainnya. Saya membeli beberapa pisang goreng dan menawarkan pada wanita di samping saya. Bukan dalam rangka berbasa-basi, saya memang benar-benar menawarinya pisang goreng. Dan tentu saja ia menolak. Saya maklum, jarang memang wanita menyukai makanan berlemak semacam pisang goreng. Tapi bentuk penolakannya itu yang membuat saya kemudian terkesan. “maaf, saya sedang puasa” ujarnya. Saya tertegun sejenak lalu kemudian segera meminta maaf. Ia kembali tersenyum menanggapi dan tentu saja saya sangat menikmati hal itu. Saya hanya menghabiskan satu pisang goreng, sisanya saya simpan. Bagaimanapun tetap tidak etis rasanya kalau saya enak-enakan makan pisang goreng sementara ada orang yang berpuasa di sebelah saya. Tapi tentu bukan itu motifnya, rasa gengsilah sebenarnya yang lebih dominan. Kami kembali bercakap-cakap tentang ini itu segala macam hingga percakapan bis kembali melanjutkan perjalanan. Sebelum keluar kota sampang sebuah panggilan masuk. Ibu Nurul ternyata yang menelpon saya. Saya berbicara cukup lama, ada masalah di lapangan yang harus saya jelaskan pada beliau.
“Ya, itu sebenarnya yang saya maksud bu. Tindakan itu saya ambil sebagai antisipasi terhadap tingkat kerugian yang saya prediksi akan mencapai …” kalimat saya terputus. Bis mendadak mengerem dan badan bis sedikit oleh ke kiri jalan membuat saya terantuk ke jok depan. Handphone saya terjatuh ke bawah. Sejenak pening menyerang dan para penumpang terdengar ribut. Ternyata ada becak yang sembarangan menyeberang. Saya mencoba meraba lantai bis, mencari handphon yang terjatuh. Pasti ibu nurul akan mencak-mencak karena pembicaraan kami terputus tanpa ada penjelasan. Tapi saya tidak berhasil mendapatkannya. Sepertinya terlempar lumayan jauh. Sekali lagi saya berusaha meraba-raba tapi tak jua saya temukan. Akhirnya saya berdiri dan minta lewat pada wanita di samping saya. Di lorong bis saya merunduk dan mencari-cari handphone saya. Ternyata benar, benda itu terlempar agak ke belakang. Saya meminta tolong pada bapak di belakang untuk mengambilkan barang itu.
Bis telah kembali berjalan dengan lancar. Beberapa ibu tampak masih mengusap dada, meredakan kekagetannya. Saya sendiri menghela nafas sebentar. Saya kembali ke tempat semula. Dan kami melanjutkan pembicaraan. Beberapa saat kemudian wanita itu telah turun di perhentiannya. Di sebuah tempat yang agak sunyi, hanya ada beberapa rumah yang terlihat. Saya kembali menelepon ibu Nurul dan menjelaskan tentang pembicaraan yang tadi terputus. Beberapa keputusan diambil dan ternyata saya tidak hanya sekedar membayar utang tapi juga menjajagi kemungkinan kerjasama dengan sebuah suplier bahan baku produksi yang katanya menawarkan harga yang lebih kompetitif.
Seturunnya wanita berpakaian pink itu, saya baru sadar bahwa saya melewatkan satu hal darinya. Nama. Ya, saya memang melewatkan untuk menanyakan siapa namanya. Ah, sialnya. Tapi apa peduliku. Ia hanya sepintas lewat yang kemudian hilang tanpa bekas. Beberapa saat kemudian saya kembali terlupakan tentang semuanya. Saya tertidur. Rasanya hanya sebentar walaupun agak kaget juga ketika terbangun bis telah berada di dermaga kamal, siap-siap masuk ke dalam kapal penyeberangan.
Kondisi kapal sudah penuh. Bis yang saya tumpangi masuk terakhir sebagai penutup. Saya turun dari bis untuk meregangkan badan. Agak sulit keluar dari bis karena kanan kiri dipenuhi oleh kendaraan roda dua yang disusun rapat. Setelah berjuang sebentar saya berhasil melepaskan diri dan berjalan ke arah tangga ke lantai atas. Namun langkah saya terhenti sebelum sampai di tangga. Saya melihat seorang perempuan yang sedang berada dalam pelukan seorang bule di dalam sebuah sedan. Sang bule sedang asik mencumbui wanita itu tanpa perduli keadaan sekitarnya. Sekilas saya sempat melihat wajah wanita itu, tapi tak begitu jelas. Hanya gaun yang dikenakan wanita itu memang jelas menantang nafsu siapapun tidak terkecuali saya. Saya berlalu dan naik ke lantai atas. Beberapa saat di sana saya kemudian merasa ada yang tertinggal di bis. Saya pun bermaksud untuk kembali namun saya terkejut ketika berpapasan dengan pasangan yang saling bercumbu tadi di tangga turun. Melihat saya, wanita itu tampak terkejut dan sontak menunduk. Walau begitu saya kini sadar siapa sebenarnya wanita itu. Wanita yang berada dalam pelukan bule itu, yang berpakaian sangat minim itu adalah orang yang sama dengan wanita yang tadi duduk bersama saya selama perjalanan dari Terminal Pamekasan hingga Blega.
Kami berpapasan dan wangi yang tadi saya cium ternyata kembali menyapa. Benar, wangi yang sama. Ya, memang wanita yang sama. Banyak pertanyaan yang muncul di benak saya. Namun yang paling membuat saya tidak habis pikir adalah kalimat yang disampaikan wanita itu pada salah satu percakapan kami. “saya sedang puasa…” kalimat itu yang membuat benak saya berputar tak karuan.